PROMOSI NIH....

Anda Tertarik....? MAU PESAN?

Souvenir Wisuda, Tutup tahun Siswa, gift envelope, Sticker,
or clik: http://goligog.wordpress.com/goligog-on-sale/

PEMESANAN:
Kami melayani pembelian dari seluruh wilayah Indonesia baik via telepon maupun email. Bila Anda menemukan kesulitan untuk berbelanja silahkan hubungi kami via telepon di : 0274-9574480 atau email kami di : aangoligog@yahoo.co.id untuk bantuan.

KEJUJURAN ADALAH MODAL UTAMA KAMI

Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

23 Februari 2009

Si Pencari Cinta

Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer... Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, "Wahai wanita, cintailah aku." Ih... nih anak, malu-maluin ya! Masa' sih sampe' gitu-gitu banget, ya...namanya juga pencari cinta bo!
Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. "Aku tak menyukai yang tenggelam," kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Semburat cahaya subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari mewayungi jagat raya ini, "Inikah dia yang kucari?" tanya beliau pula. Bukan...bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.
Ikhwah fillah rahimakumullah...Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur'an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih...jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa' sih akal, nalar dan fikiran sampe' gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh...
Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa': 125].
Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran butir darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!
Dari nenek moyang kita dulu, sampe' sekarang, buanyak buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut 'manusia langit?'
Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela 'pasang badan' menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya? Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang berbisa itu.
Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta sejati, cinta hakiki yang mengharapkan ridho Illahi Rabbi.
Nah...sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a. atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta sejati?
Ya akhi wa ukhti,Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.
Kutahu pasti cinta-Mu dalam dan murniNamun mengapa sulit untukku mendapatkan cinta dari-Mu
Hidupku ini terasa hampa dan sunyiTanpa belaian kasih sayang-MuCintailah hamba-Mu ini Ya Allah ...
Allah ...Leraikanlah segala beban di dunia iniHanya pada-Mu yang kuharap hanya cinta ikhlas-MuMerasuk ke dalam kalbu Allah dengarkanlah hamba-Mu
Allah ...Dengarkanlah bisikan suara hatikuHapuskan noda dan dosa di kalbuHanya pada-Mu Agar aku dapat menggapai cinta-Mu
Cintaku pada-Mu ya AllahYa Allah
Ku bersujud kepada-Mu Mengharapkan cinta suci-Mu (Snada: Cinta Ilahi)

Thanks to dudung.net

Orang yang Dilindungi Allah

oleh: Aam Amiruddin

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada Allah", seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata". (H.R.Bukhary - Muslim) Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat ada tujuh tipe atau golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah swt., yaitu:
1. Pemimpin yang adil Menjadi pemimpin yang adil itu tidaklah mudah, butuh pengorbanan pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas namun amanah. Kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai fasilitas, kemungkinan besar kita akan memanfaatkan kepemimpinan itu sebagai sarana memperkaya diri tanpa menghiraukan aspek halal atau aharam. Sebaliknya, kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai amanah, kita akan melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Nah, untuk melaksanakan kepemimpinan dengan cara yang amanah itu tidaklah mudah,. Karena itu logis kalau kita menjadi pemimpin yang adil, Allah akan memberi perlindungan di akhirat kelak.
2. Anak muda yang saleh Masa muda adalah masa keemasan karena kondisi fisik masih prima. Namun diakui bahwa ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya, Allah akan memberikan perlindungan-Nya pada hari kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang saleh.
3. Orang yang hatinya terikat pada mesjid Kalimat "seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid" seperti yang disebutkan hadits di atas, paling tidak menunjukkan dua pengertian. Pengertian pertama, orang-orang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Pengertian kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.
4. Bersahabat karena Allah Poin ini terambil dari kalimat "dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah". Bersahabat karena Allah swt. maksudnya kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena faktor harta, kedudukan, atau hal-hal lain yang bersifat material, namun murni semata-mata karena Allah swt. Kalau sahabat kita berbuat baik, kita mendukungnya, dan kalau berbuat salah kita mengingatkannya, bahkan kita berani meninggalkannya kalau sekiranya sahabat tersebut akan menjerumuskan kita pada gelimang dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksud dengan persahabatan karena Allah.
5. Mampu menghadapi godaan lawan jenis "Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada Allah." Kalimat ini menggambarkan bahwa kalau kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat. Di sini digambarkan seorang laki-laki yang digoda wanita bangsawan nan rupawan tapi dia menolak ajakannya bukan karena tidak selera kepada wanita itu, namun karena takut kepada Allah. Jadi, rasa takut kepada Allahlah yang menjadi benteng laki-laki tersebut, sehingga tidak terjerembab pada perbuatan maksiat. Karena itu Allah memberikan penghargaan pada hari kiamat dengan memberikan pertolongan-Nya. Di sini diumpamakan laki-laki yang digoda wanita, namun sangat mungkin wanita pun digoda laki-laki.
6. Ihklas dalam beramal "Seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya." Ini gambaran keihlasan dalam beramal. Saking ihklasnya dalam beramal sampai-sampai tangan kiri pun tidak tahu apa yang diinfakkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya. Pertanyaannya, bolehkah kita bersedekah sambil diketahui orang lain, bahkan nama kita dipampang di koran? Boleh saja, asalkan benar-benar kita niatkan karena Allah swt., bukan karena cari popularitas. Perhatikan ayat berikut, " Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Baqarah 2: 271) 7. Zikir kepada Allah dengan khusyu "Seseorang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata." Zikir artinya mengingat Allah. Kalau seseorang berdo'a dengan khusyu hingga tak terasa air mata menetes karena sangat nikmat berzikir dan munajat kepada-Nya, maka Allah akan memberikan pertolongan kepadanya pada hari kiamat kelak. Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan agar kita bisa menjadi orang-orang yang mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya. Caranya? Kerjakanlah tujuh poin di atas! Wallahu A'lam.

06 November 2008

MENGHITUNG DIRI

Betapa cepatnya waktu bergulir, siang dan malam silih berganti tanpa kita sadari, berputar terus tanpa henti merenggut hari-hari dan umur kita. Bulan demi bulan terus berlalu seakan bagai mimpi, lewat dengan begitu cepat seperti seorang penyeberang jalan. Bahkan setahun pun tidak kita rasakan, padahal ia adalah kesempatan untuk persiapan menuju perjalanan yang jauh.., apa yang telah kita perbuat selama ini, ketaatan apa yang dapat kita persembahkan ? Pahala dan kebaikan apa yang telah kita usahakan?
Setiap Orang akan Mendapati Apa yang Ia Kerjakan Walaupun kita telah lupa terhadap apa yang kita lakukan di masa lalu, baik itu kebaikan maupun keburukan, namun itu semua terjaga dan tercatat dalam buku catatan amal. Dua malaikat pencatat (kiraman katibin) tak pernah lalai mengawasi gerak-gerik dan ucapan kita. "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. 50:18) Tak ada satu kata yang diucapkan oleh anak Adam, kecuali ada pengawas yang selalu menulis dan menghitungnya, tidak ada yang terlewat walau hanya satu kalimat atau satu gerakan. "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. 82: 10-12)
Kelak nanti di Hari Kiamat setiap orang akan melihat rekaman dari perbuatannya selama di dunia. Tak satu pun yang dapat mengelak, masing masing diliputi kegundahan dan rasa takut, kecuali orang-orang mukmin, maka mereka mendapatkan curahan rahmat dari Allah disebabkan ketaatan mereka kepada-Nya dan karena mereka selalu mengikuti Rasul-Nya. "Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut.Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya.Pada hari itu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.(Allah berfirman) "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguh-nya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan". Adapun orang-orang yang beriman dan mengerja-kan amal yang saleh, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga).Itulah keberuntungan yang nyata. (QS. 45:28-30).
Pada Hari Kiamat, orang-orang kafir dan ahli maksiat menunduk lesu, menyesali perbuatannya selama di dunia, mereka dalam keadaan hina dan ketakutan seraya menyeru kecelakaan atas diri mereka. "Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak meng-aniaya seorang jua pun." (QS. 18:49)
Bersegeralah Sebelum Ajal Menjemput Satu hal yang patut untuk kita renungi adalah, apa persiapan kita untuk menghadapi Hari Akhirat? Apakah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan berbagai amal yang dapat menyelamatkan kita dari huru-hara dan kedahsyatannya? Pernahkah kita menghitung diri atas apa yang telah kita ucapkan dan kita perbuat? Mari segera kita jawab sebelum datang waktunya bagi kita untuk mengucapkan, "Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan." Kemudian kita dapati jawaban, "Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan." (QS. 23:100)
Sungguh para salaf adalah orang-orang yang paling banyak melakukan ibadah, ketaatan dan amal shalih. Namun ternyata mereka tidak begitu saja mengandalkan amal perbu-atan mereka, bahkan mereka senan-tiasa merasa khawatir kalau-kalau apa yang mereka lakukan itu masih belum diterima oleh Allah, sehingga terus merasa kurang dalam beramal dan tak henti-hentinya memohon ampunan kepada Allah.
Coba kita perhatikan bagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam melakukan shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, kemudian dalam sehari beliau beristighfar mohon ampunan kepada Allah lebih dari seratus kali. Apakah beliau pernah bermaksiat kepada Allah sehingga harus mohon ampun sehari lebih dari seratus kali? Demi Allah beliau adalah manusia yang paling taat. Itu semua beliau lakukan tak lain karena muhasa-bah yang tiada henti, muraqabah dan sikap tawadlu' yang sempurna kepada Allah, sehingga beliau terus bertaubat dan beristighfar kepada-Nya.Beliau tidak semata-mata mengandalkan kedudukannya yang mulia dan tinggi sebagai nabi, bahkan beliau sendiri menyatakan, "Seseorang masuk Surga bukan semata-mata karena amalnya." Para shahabat bertanya, "Tidak pula engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Tidak juga aku, kecuali jika Allah mencurahkan kepadaku rahmat dan keutamaan-Nya." Jika seorang penghulu Nabi saja keadaannya seperti itu, maka bagaimana lagi dengan kita? Bagaimana mungkin kita merasa bangga dengan amal kita, bahkan kita sering banyak bergurau, bermain-main, padahal kita tidak tahu ke mana tempat kembali kita kelak di akhirat? "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS. 21:47) Dalam ayat lain Allah juga berfirman, "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya." (QS. 3:30) Allah akan memutuskan perkara-perkara di antara hamba-hamba-Nya, menghitung keseluruhan amal mereka tak satu pun yang ketinggalan dan Dia tidak akan menzhalimi hamba-Nya. Bahkan Dia memaafkan, mengampuni dan menyayangi, namun Dia juga menyiksa siapa saja yang dikehendaki dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Setiap Kita Akan Ditanya Karena dahsyatnya Hari Pembalasan, maka Allah memerintahkan hamba-Nya untuk selalu menghitung diri dan mempersiapkan hari depan, sehingga ketika datang kematian, maka ia tidak dalam keadaan lalai dan terlena. Dia berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. 59:18)
Imam Ibnu Katsir berkata, "Mak-sudnya adalah hitunglah diri kalian sebelum nanti dihitung, lalu lihatlah apa yang telah kalian siapkan berupa amal shalih untuk bekal hari kepulanganmu dan menghadap Tuhanmu." Seorang mukmin harus selalu menghitung diri karena ia tahu bahwa kelak besok di hadapan Allah ia akan dihisab. Allah telah memberitahukan kepada kita, bahwa kita semua nanti akan ditanya tentang nikmat yang telah kita terima di dunia, "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu )." (QS. 102:8) Kita semua akan ditanya tentang nikmat itu, makan dan minum yang kita santap, harta benda, rumah, kendaraan dan pakaian, untuk apa semua itu dan bagaimana kita memperolehnya. Nabi n telah bersabda, "Tak akan bergeser kaki seorang hamba, sehingga ia ditanya tentang empat hal; Tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang ilmunya apa yang ia amal-kan dengan ilmu itu, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang badannya untuk apa ia gunakan" Mari kita semua menjawabnya, tentunya dengan jawaban yang benar dan jujur, sebab perkara ini bukan perkara sepele dan main-main.Ini butuh keseriusan karena berkaitan dengan ujung nasib kita, surga atau neraka.
Salah seorang salaf berkata," Andaikan Allah mengancamku, bahwa jika aku bermaksiat kepada-Nya, maka Dia akan memenjarakanku di dalam sel yang sempit, maka itu sepantasnya membuatku untuk tidak malas dalam beribadah, maka bagaimana lagi jika ia telah mengancamku dengan siksa api neraka, jika aku bermaksiat kepada-Nya?

Cara Muhasabah Diri
Imam Ibnul Qayyim berkata ten-tang cara muhasabah, "Pertama-tama hendaklah menghitung diri dalam masalah kewajiban, jika ingat masih ada kekurangan, maka hedaknya segera disusul dengan mengqadla atau memperbaikinya.Kemudian setelah itu menghitung diri dalam masalah larangan, jika mengetahui ada larangan yang telah dikerjakan atau diterjang, maka hendak-nya segera menyusulnya dengan bertaubat dan beristighfar serta banyak melakukan kebajikan-kebajikan yang akan dapat menghapusnya. Lalu selanjutnya muhasabah diri dalam hal kelalaian, jika selama ini telah sering lalai akan tujuan dari penciptaan manusia di dunia, maka harus segera mengingatnya serta menghadapkan diri kepada Allah. Kemudian menghitung diri dalam hal ucapan, langkah kedua kaki, aktivi-tas kedua tangan, pendengaran telinga, penglihatan: Apa yang dikehendaki dengan semua itu, untuk siapa serta apa tujuan melakukannya?Dan harus diketahui, bahwa seluruh ucapan dan perbuatan hendaknya mempunyai dua sisi pertimbangan yang selalu diingat. Yang pertama pertimbangan untuk siapa berbuat dan ke dua bagaimana berbuat. Yang pertama adalah perta-nyaan tentang keikhlasan dan yang ke dua pertanyaan tentang mutaba'ah (mengikuti tata cara yang diajarkan Nabi ).

Nasehat dan Teladan
Berkata al-Hasan, "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang ketika menginginkan sesuatu, ia merenung terlebih dahulu, kalau itu untuk Allah, maka ia terus dan kalau untuk selain-nya maka ia urungkan. Berkata Ibrahim at-Taimiy, "Aku mengumpamakan diriku berada di Surga makan buah-buahnya dan minum dari air sungainya, lalu bercanda dengan para bidadari. Lalu aku mengumpama-kan diriku berada di neraka, memakan buah zakum, meminum nanah, dirantai dan dibelenggu. Lalu aku katakan pada diriku, "Hai jiwa, apa yang kau mau sekarang? Jiwa itu menjawab, "Aku ingin kembali ke dunia dan melakukan amal shalih". Aku pun berkata, "Kini angan-anganmu (untuk kembali ke dunia) tercapai , maka beramallah!" Ibnul Jauzi berkata, "Sepantasnya orang yang tidak tahu kapan ia akan mati untuk selalu mempersiapkan diri, janganlah ia tertipu dengan usia muda dan kesehatannya."
Berapa banyak pemuda yang mati karena sakit yang mendadak, berapa banyak yang mati karena kecelakaan, berapa banyak yang mati disebabkan kecanduan dan berapa banyak pula yang meninggal karena perkelahian dan tawuran? Siapa yang tahu umur seseorang?

Sumber : Kutaib "waqafat ma'a nihayatil 'aam" Khalid Abu Shalih - Al-Sofwah

15 September 2008

Hidup Sederhana

Kiranya, tidak ada seorang pun yang menolak menjadi
jutawan atau miliarder. Ya! Bisa jadi semua orang
ingin menjadi orang kaya. Namun tentu saja, sebagai
seorang Muslim kita tidak boleh memandang kekayaan
sekadar dari banyaknya harta benda. Kita harus mampu
mendayagunakan kemampuan materi kita agar menjadi
berkah. Artinya, bermanfaat di dunia maupun di
akhirat.

Secara sederhana, kekayaan yang berkah itu memiliki
tiga ciri. Pertama, kekayaan tersebut dapat
menyebabkan pemiliknya qana'ah (puas dan merasa
cukup), sehingga dia tidak merasa tersiksa atau
kekurangan. Bahkan dia akan menggunakannya untuk
beramal. Kedua, kekayaan berkah adalah kekayaan yang
dapat membuat batin pemiliknya tenang. Harta melimpah
tidak membuatnya bingung untuk mengelolanya dan tidak
pula menyebabkan rasa waswas untuk kehilangan. Ia
yakin bahwa semua yang dimilikinya adalah amanah dari
Allah SWT dan kapan pun bisa Allah ambil kembali.
Ketiga, pemiliknya menjadi lebih mulia daripada
kekayaan yang dimiliki. Seperti halnya Nabi Sulaiman,
nabi paling kaya, kekayaannya digunakan untuk ibadah
dan maslahat umat. Beliau menganggap, harta bukanlah
segalanya di dunia ini, namun hartanya dapat digunakan
untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Caranya,
harta tersebut dibelanjakan di jalan Allah melalui
zakat, infak, dan sedekah. Sebaliknya, jika
kekayaannya tidak berkah, maka pemiliknya tidak akan
merasa puas, tenteram, dan yang lebih parah lagi, ia
tergolong manusia yang sangat hina.

***

Saudaraku, berbicara mengenai menafkahkan harta,
kiranya patut kita sadari bahwa kita harus
berhati-hati atas kemungkinan berlaku boros. Sebab
Allah SWT dalam Quran Surat Al Israa ayat 26-27 telah
memperingatkan, "Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah
kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu
sangat ingkar kepada Tuhannya." Naudzubillaah.
Perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan
terkutuk yang dapat membuat harta yang kita miliki
tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang
dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu,
dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta,
karena kita salah dalam menyikapinya.

Orang yang dititipi Allah dengan limpahan harta,
kecenderungannya untuk menjadi pecinta harta biasanya
lebih besar. Sifat ini muncul salah satunya karena ada
keinginan untuk tampil lebih "wah", lebih bermerek,
atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin
bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa
diri.

Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang
biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih
ringan. Mulailah dengan membeli sesuatu hanya karena
perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu!
Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru,
tanyakan; perlukah kita membeli motor baru? Sudah
wajibkah kita membelinya? Jika alasannya logis, maka
kalaupun jadi membeli, pilihlah yang skalanya paling
irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya.
Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya.
Mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar?

Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat
tenaga, yakinlah makin kita bisa mengendalikan
keinginan kita, Insya Allah kita akan makin
terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak
dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa
oleh barang-barang kita sendiri, yang harus bermerek.
Dan bahkan, bisa juga jadi dicurigai. Karena ada pula
orang yang ketika memakai sesuatu yang bermerek,
justru disangka barang temuan.

Saudara-saudaraku, Allah Maha Menyaksikan. Apa yang
dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubazir.
Rasulullah SAW itu kalau makan sampai nasi yang
terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah
berkahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan
mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami.


Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap
perbuatan kita karena tidak ada yang kecil di mata
Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh
Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta, kalau
Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan
kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat
menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan
merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan.
Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa
terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat
dengan Allah.

Hal lain yang membuat berkah adalah jika kita dapat
mendayagunakan semua barang-barang kita. Bersihkan
rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna.
Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak
dibiarkan di rumah, itu akan berkah rezekinya.

Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama,
begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah
barang-barang yang tidak berharga tersebut. Mungkin
bagi orang lain sangat berharga. Di rumah kita tidak
terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan
kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah
yang membuat kita terjamin. Kalau kita ikhlas, demi
Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak
terpakai di rumah.

Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika
karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat
makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan
rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya,
ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga
tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat
kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Dan
itulah namanya keuntungan.

Jadi, mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus
menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap
keluar harus multimanfaat bukan hanya dapat barang.
Misalnya, dengan membeli barang di warung kecil di
pinggir gang mungkin uangnya untuk menyekolahkan
anaknya, membeli sajadah, membeli mukena, Subhanallah.

***

Saudaraku, satu hal yang harus kita hindari adalah
merasa kaya dengan apa yang kita miliki dan merasa
cukup dengan karunia Allah. Lalu apa yang harus ada
pada diri kita? Merasa kaya dengan apa yang Allah
jaminkan kepada kita. Mengapa demikian? Karena tidak
sedikit orang yang sebenarnya memiliki pribadi miskin
tetapi merasa kaya dengan tabungan yang dipunyai,
merasa kaya dengan hartanya, atau merasa kaya dengan
rumahnya yang megah.
Ciri-ciri orang yang mempunyai kekayaan dunia tetapi
mempunyai kepribadian miskin adalah selalu mengambil
sesuatu dari sana-sini tanpa peduli halal atau haram
karena merasa miskin. Dia relakan dirinya terhina
dengan mencuri uang orang lain atau mengambil kekayaan
orang lain.

Orang yang kaya itu bukan yang banyak uangnya tetapi
orang yang sedikit kebutuhannya. Ketahuilah orang yang
tidak bersahaja dalam hidupnya akan sangat banyak pula
kebutuhan dan pengeluarannya, akibatnya biaya untuk
sedekah menjadi sedikit, biaya untuk menabung menjadi
terbatas. Yang dia lakukan terus-menerus memuaskan
dirinya dengan mengganti perhiasan, mengganti mobil,
ataupun mengganti sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
Sebenarnya tidak dilarang untuk menggganti rumah, tapi
yang kita butuhkan adalah orang yang punya harta yang
berlebih untuk bisa dinafkahkan kepada saudara yang
membutuhkan.

Hidup sederhana itu berarti menafkahkan harta dengan
tidak berlebihan untuk memuaskan nafsunya dan juga
tidak kikir dalam berbuat kebaikan. Pola hidup
sederhana memberikan dua keuntungan. Pertama, tidak
diperbudak oleh keinginan pamer. Sedangkan untuk pamer
itu akan membuat kita tersiksa. Bukankah ingin dilihat
orang lain itu membuat diri kita tersiksa? Bukannya
tidak boleh memiliki barang yang bagus, tapi apalah
artinya bagus tapi memperbudak diri kita. Kedua,
meminimalisasi pengeluaran. Makin mahal suatu barang,
maka biaya perawatannya pun akan semakin mahal pula.
Tapi kalau kita bersahaja Insya Allah biaya akan bisa
ditekan. Selain itu kalau kita biasa bersahaja kita
tidak akan membuat orang lain iri atau kotor hati.
Apalagi kalau dia bersahaja dan mampu menahan dirinya
untuk tidak pamer.

Saudara-saudaraku, seberapa besar pun biaya hidup akan
berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan
baik. Barang yang ada di rumah harus ada nilai
tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus
ada nilai produktifnya, misalnya untuk membuat jus
kemudian dijual, pasti berkah. Bukannya membuat biaya
tambah karena harus diurus, dirawat, dan membutuhkan
pengamanan. Barang yang seperti ini tidak boleh ada di
rumah kita.
Rezeki kita pasti ada, tinggal kita kreatif saja.
Tidak perlu panik, Allah Maha Kaya. Wallahu a'lam.

(Republika Online)