PROMOSI NIH....

Anda Tertarik....? MAU PESAN?

Souvenir Wisuda, Tutup tahun Siswa, gift envelope, Sticker,
or clik: http://goligog.wordpress.com/goligog-on-sale/

PEMESANAN:
Kami melayani pembelian dari seluruh wilayah Indonesia baik via telepon maupun email. Bila Anda menemukan kesulitan untuk berbelanja silahkan hubungi kami via telepon di : 0274-9574480 atau email kami di : aangoligog@yahoo.co.id untuk bantuan.

KEJUJURAN ADALAH MODAL UTAMA KAMI

Tampilkan postingan dengan label Wirausaha Yuk... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha Yuk... Tampilkan semua postingan

18 Maret 2010

Kayu Sengon Ivestasi Masa Depan

Biaya Perawatan
Biaya Perawatan meliputi biaya pembersihan lahan dan pemberian pupuk serta pengendalian hama setiap 6 bulan sekali. Pekerjaan akan melibatkan tenaga kerja sebanyak 5 orang. Terdiri 1 (satu orang) pengawas dan 4 (empat) orang pekerja. Diperkirakan akan memakan waktu 7 hari kerja untuk setiap 1 hektar lahan.
Proyeksi biaya perawatan selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 9.000.000,-.
Perhitungan Biaya Perawatan :
Upah Tenaga Kerja per orang : Rp. 20.000 / hari
Jumlah Tenaga Kerja : 5 orang
Jumlah hari kerja : 7 hariJumlah Biaya per 6 bulan : Rp. 700.000,-
Jumlah By 5 Tahun : Rp. 7.000.000,-
Kebutuhan Pupuk : Rp. 2.000.000,-
Jumlah Biaya Perawatan : Rp. 9.000.000,-

Biaya Penyulaman
Biaya penyulaman adalah estimasi atas kemungkinan tanaman yang kurang sehat atau mati. Apabila perkiraan tanaman yang mati sebesar 25% dari total 4.000 tanaman. Maka jumlah penyulaman sebanyak 1.000 tanaman. Apabila biaya perawatan dan biaya bibit per batang adalah sebesar Rp. 5.250,-, [(Rp. 12.000.000 + Rp. 9.000.000) : 4.000 batang)] maka biaya penyulaman diperkirakan akan menyerap dana sekitar Rp. 5.250.000,-
Kebutuhan Dana Investasi Kayu Sengon
Perhitungan Biaya :
Pembelian Bibit Rp. 8.000.000,-
Ongkos Tanam Rp. 4.000.000,-
Biaya Perawaran Rp. 9.000.000,-
Biaya Penyulaman 20% est Rp. 5.250.000,-
Lain-lain Rp. 2.000.000,- Total Biaya Rp. 28.250.000,-

Pemasaran
Pemasaran kayu sengon relatif lebih mudah, karena kayu sengon merupakan jenis kayu yang tingkat konsumsinya tinggi. Kebutuhan kayu sengon disamping untuk dijual sebagai kayu papan dapat pula digunakan sebagai kayu kaso, palet, bahan pembuat peti dan lain sebagainya. Ranting kayu sengon dapat pula dijual sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan kertas (pulp). Pemasaran sengon di wilayah Jonggol biasanya dilakukan oleh tengkulak atau langsung dijual ke pabrik pemotongan kayu (sawmill). Harga pasar kayu beragam, saat ini harga satu batang pohon sengon usia tanam 5 tahun dapat dijual seharga Rp. 300.000 - Rp. 500.000,-. Sedangkan jika sudah dibuat papan atau balok dapat dijual seharga Rp. 1.000.000 - 1.200.000,- per m3.

Perhitungan Hasil Investasi
Jumlah tanaman per hektar lahan adalah sebanyak 4.000 batang dan prediksi susut sebesar 25% atau sejumlah 1.000 batang, maka setiap hektar lahan akan menghasilkan kayu yang dapat dipanen sebanyak 3.000 batang. Apabila dijual kepada tengkulak (tebang ditempat) tanpa mengeluarkan ongkos tebang dan ongkos angkut sebatang pohon dapat dijual seharga Rp. 500.000,- (harga saat ini), sehingga perhitungannya menjadi sebagai berikut :3.000 batang x Rp. 300.000,- = Rp. 900.000.000 Jadi selama 5 tahun masa tanam akan menghasilkan 3.000 batang kayu sengon per hektar lahan. Apabila diambil harga jual termurah yaitu sebesar Rp. 300.000,- per m3, maka hasil investasi kayu sengon selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 900.000.000,- .Hasil perhitungan tersebut berdasarkan estimasi terendah. Sebagai informasi, harga pasaran kayu sengon saat ini per batang dengan usia tanam 4 tahun adalah sebesar Rp. 500.000,-.Disamping itu investor dapat memilih untuk menjual kayu dengan cara jual di tempat, yaitu dijual gelondongan tanpa biaya angkut dengan harga jual sebesar Rp. 300.000,- atau menjual kayu olahan dengan tambahan biaya angkut dan biaya pengolahan. Kayu sengon olahan dapat dipasarkan dengan harga Rp. 1.000.000,- sampai dengan Rp. 1.200.000,- per m3. Biaya pengolahan kayu (menurut informasi penduduk setempat) adalah setiap 3 m3 kayu gelondongan akan menjadi 2 m3 kayu olahan. Jumlah ini bersih yang akan diterima untuk pemilik kayu.

http://imronrosyadi.blogspot.com/2009/02/investasi-kayu-sengon.html

28 April 2009

BINGUNG INGIN WIRASWASTA

Oleh: Mike Rini
Dikutip dari CBN CyberSHOPPING

Ibu yang cantik, saya hampir 7 bulan nganggur stelah tamat dari D3 Akuntansi USU. Tiba2 saya tertarik untuk buka usaha sendiri, dan minat saya adalah event organizer kecil-kecilan (hanya untuk pesta ulang tahun atau perayaan kecil-kecilan), tapi saya bingung bagaimana memulainya. Saya sudah menentukan orang-orang yang bisa saya ajak bergabung, seperti katering, shooting video, foto, bahkan salon dan MC. Tapi tetap saja saya tidak mulai-mulai. Kasih tau dong Bu, langkah-langkah apa saja yang bisa saya lakukan. Bantu saya, saya bosen nganggur!
Please ya, Ibu yg cantik.
Citra

Jawaban:
Halo bu Citra,
Wah, saya GR nih, dipanggil cantik.
Senang sekali mendengar niat Anda memutuskan untuk berhenti menganggur dan mulai berwirausaha. Mendapatkan penghasilan tidak hanya bisa dicapai dengan cara bekerja menjadi keryawan disuatu perusahaan. Jika kita berani membuka usaha sendiri, maka secara perlahan-lahan kita bisa mendapatkan pemasukan dari hasil usaha kita. Usaha kita semakin maju, otomatis penghasilan kita juga semakin besar. Potensi kenaikan penghasilan dari usaha sendiri bahkan bisa jauh lebih besar daripada kenaikan gaji sebagai karyawan. Menjadi pengusaha berarti Anda siap bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas, sedangkan menjadi karyawan berarti Anda sanggup berkomitmen dengan perusahaan untuk memberikan kontribusi sesuai dengan pekerjaan yang maksimal dan atas hasil kerja Anda maka Anda mendapatkan perhargaan berupa gaji. Karena itu penghasilan sebagai karyawan sangat tergantun dari perusahaan, namun sebagai wirausaha Anda tidak perlu tergantung dari siapapun. Berbagai keuntungan dan fleksibilitas menjadi wirausaha, sebenarnya bisa menjadi motivasi Anda dalam menjalankan bisnis. Namun, langkah yang paling sulit ketika seseorang baru belajar berjalan adalah langkah pertama atau langkah-langkah awal. Orang seringkali terlalu memikirkan hasil akhir dari suatu perjalanan yang membuahkan kesuksesan. Padahal untuk sampai di tempat tujuan dengan sukes hanya bisa dicapai dengan mengambil langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya secara konsisten.
Baiklah, Bu Citra, perjalanan kita tidak boleh berhenti pada langkah pertama saja, dimana saat ini Anda sudah membuat daftar para partner bisnis atau orang-oarang yang ingin diajak kerjasama. Langkah kedua adalah melakukan promosi untuk menawarkan jasa Anda kepada orang lain, misalnya melalui promosi dari mulut ke mulut, memasang iklan di media cetak atau media online seperti internet, mengirimkan surat penawaran, menulis berbagai artikel atas nama Anda atau perusahaan Anda tentang tips-tips penyelenggaraan acara dan mengirimkannya ke majalah atau media lain, dan lain-lain. Rajinlah-rajinlah untuk mengembangkan dan memanfaatkan network (jaringan), dengan cara mengikuti berbagi perkumpulan seperti arisan, koperasi, mailing list, pengajian, kursus-kursus sehingga Anda bisa sekaligus berpromosi. Dengan melakukan langkah ke dua ini diharapkan dari usaha promosi yag dilakukan semakin banyak orang yang mengenal jasa Anda dan kemudian menjadi klien Anda. Tanpa melakukan promosi secara aktif, mustahil Anda bisa mendapatkan klien.
Nah, apakah langkah ketiga, keempat dan seterusnya, tentunya saya serahkan kepada Anda. Saran saya tiap kali Anda membut rencana yang sudah mantap, maka jalankanlah agar Anda terus melangkah dan tidak diam di tempat. Nikmatilah perjalanan untuk menjadi pengusaha yang berhasil. Ingat, setiap langkah yang Anda ambil selalu lebih baik daripada tidak melakukan apapun.
Selamat berbisnis dan sukses untuk Anda.

Salam,Mike RiniPerencana Keuangan

3 Alasan Saya Memilih Usaha Laundry

Saya pindah ke Bandar Lampung dari Jakarta awal tahun 2006. Oleh karena saya bukan TDB, maka sebelum hijrah saya perlu memikirkan rintisan usaha yang cocok sebagai gantungan hidup kami. Saya survey sana sini dan menyimpulkan ada 3 alternatif usaha, yaitu toko kelontong, kantin dan atau laundry.

Ketiganya punya kesamaan.
1. Simple dan mudah dikerjakan. Berhubung biaya hidup jalan terus sementara tabungan terbatas, maka untuk sementara saya "peti es-kan" cara bisnis yang njelimet.

2. Investasi rendah. Kriteria saya, modal start up harus kurang dari 5 juta.

3. Cashflow harian. Untuk bisa makan setiap hari, saya berharap usaha saya menghasilkan uang dengan cepat (bukan besar). Biar sedikit, yang penting uang berputar. Pada kenyataannya, ASTA Laundry hanya "bolong" pada hari pertama saja.

Setelah diskusi keluarga, akhirnya kami mulai serentak, usaha laundry (saya) dan kantin (istri) dengan dibantu 1 pegawai. Dalam perkembangannya, usaha kantin sudah almarhum dan laundry beranak pinak menjadi 4 unit usaha. Sekarang jumlah pegawai menjadi 11 orang dan omzet maupun labanya cukup baik.

Kalo ingat target pertama kami, saya ketawa. Waktu itu saya minta omzet 2.5 juta/bulan, hanya sekadar untuk bertahan hidup. Ini mah omzet 1 jam rekan-rekan TDA lainnya...

Arifin Novariadi
08129232061
0721-705033

Mesin pemanggil burung walet

Salah satu bidang dalam dunia bisnis yang rada-rada stabil tetap dalam high rate adalah produk berupa sarang burung walet (selain misalkan logam mulia emas, properti/tanah de el el); maksudnya gak terlalu sering terguncang kondisi2 eksternal, kayak petani bawang, beras, gula, atau produk perkebunan (yang kadang tinggi, kadang amburadul, dsb). Untuk produksi sarang bulut walet sendiri, biasanya petani menggunakan beberapa metode, ada yang pakai cara alami, seperti yang ada di pantai-pantai karang bolong (Kebumen-Jawa Tengah) yang terjal berbahaya sewaktu acara panen nya; atau cara lain dengan membangun rumah-rumah sarang burung walet di darat dengan trik tertentu. Pada kesempatan ini penulis bukan ingin memaparkan/menjelaskan tentang teknik beternak burung waletnya (karena kurangnya ilmu); tetapi ingin menyampaikan penawaran produk kepada rekan2 berupa Mesin Pemanggil Burung Walet. Mesin ini biasanya ditempatkan di rumah-rumah yang dibangun untuk tempat bersarang burung walet, sengaja dibuat untuk menarik perhatian (memanggil) mereka agar mau singgah di rumah tersebut, dan bersarang. Sarang inilah yang nantinya akan dipanen untuk dimanfaatkan (dijual). Sudah banyak buyer yang berhasil memanfaatkan mesin ini, semisal dari Surabaya, kota-kota di pulau Jawa maupun di luar Jawa. Nah, barangkali ada diantara rekan-rekan yang membutuhkan mesin ini, kami memiliki produknya. Home made, rancangan dan inovasi sendiri dari rekan penulis yang hobby utak-atik alat elektronik. Adapun sebagian data spek teknis mesin ini seperti berikut : body case model ATX tower (mudah dalam penempatan); konsumsi daya otomatis menyesuaikan kuat suara yang dibutuhkan dengan power supply 350 watt max AC Matic; power audio 1600 watt 4 kanal daya 300 watt tiap kanal mampu mengangkat tweeter dalam jumlah banyak, max 200 tweeter tiap kanal; power on off toggle yang compatible tidak terjadi kerusakan untuk waktu pemakaian lama; dual channel volume control yang praktis untuk 2 channel atas dan bawah, timer system untuk on/off bagian 2 kanal atas sehingga bisa control suara di luar ruangan agar tidak mengganggu tetangga atau orang pada malam hari atau hari2 tertentu; 10 program channel timer memory untuk pengaturan max 10 perintah pemrograman; memory audio sound 256 MB MP3 yang digunakan untuk menyimpan data suara burung walet yang berformat mp3 sebesar 256 MB, kelebihannya adalah bisa memutar suara yang sangat lama dan tidak akan terjadi suara macet atau berubah, suara bisa diubah dengan suara lain via USB port connector dengan Windows XP PC; power menggunakan sistem mosfet yang menghasilkan suara jernih tidak ada derau atau noise yang mengganggu; thermal short circuit overloading protection untuk pengamanan pada waktu kabel speaker terjadi korslet semisal salah pemasangan atau penggunaan; power fan cooled system untuk menjadikan ruangan mesin tetap pada suhu max 32 derajat sehingga mesin dapat tahan dalam jangka waktu lama; system relay OMRON relay yang kuat untuk dipakai non-stop; binding push system terminal output speaker yang kuat dalam pengkaitkan kabel speaker; rate frekuensi sangat tinggi bisa untuk suara dalam range 500 Hz hingga 20 KHz.Nah demikianlah fitur2 yang ada pada mesin pemanggil burung walet (rakitan) ini. Harga produk yang ditawarkan adalah Rp 2.800.000,- per unit untuk model 2 macam suara, dan Rp 3.500.000,- untuk 4 macam suara. Garansi 12 bulan service, harga belum termasuk ongkos kirim. Bagaimana, mau membuktikan kehandalannya?OK, bagi rekan2 yang berminat bisa kontak kami (Pointer Media di 0819 3119 8080).

Info lengkap lihat di website : www.mesinwalet.com.

Direct Selling : memotong rantai distribusi !

Ada sebuh berita menarik di koran lokal Jogja hari ini, 9 November 2005. Di sana diceritakan kisah unik dan menarik dari Kulonprogo. Seorang tukang batu yang kini mengisi hari kosongnya dengan menemukan ide unik, menjual lombok (cabai) dikemas dalam plastik, dijajakan kepada para pemudik yang kebetulan lewat, layaknya para pedagang asongan. Bukan minuman kemasan atau jajanan atau merdunya suara nyanyian jalanan yang ia tawarkan, tetapi sebungkus plastik berisi 1/2 kg lombok! :) Kreatif, pak Kadi!Gagasannya sederhana, harga lombok di pasar Jakarta mencapai Rp 35 rb an per kg. Sementara di tingkat petani di Kulonprogo, harganya cuma Rp 7000 per kg. Dengan mengemasnya menjadi 1/2 kg per bungkus, pak Kadi berani menjual seharga cuma Rp 7000 per bungkus. Jauh jauh lebih murah daripada harga di Jakarta. Makanya dagangan pak Kadi laku keras dibeli ibu-ibu yang kebetulan mudik ke Jawa dan ingin kembali ke Jakarta. Dalam waktu 2 jam saja, pak Kadi mampu menjual 10 KG lombok!Inilah yang dinamakan Direct Selling, menjual langsung ke pembeli. Dengan cara ini, rantai distribusi yang panjang bisa dipotong, seperti yang lazim terjadi misal untuk sekilo lombok/cabai bila hingga sampai di supermarket. (Tetapi memang ndak semua jenis barang sih, bisa dipasarkan dengan model begini)Tetapi ide dari kisah pak Kadi, mungkin bisa kita jadikan wawasan unik dan sehat bagi pemikiran kita di dunia wirausaha. Ya nggak? :) Siapa tahu berikutnya muncul bu Inah penjual asongan bawang merah di Tegal, pak Hendro pedagang Apel segar di Malang, bang Asmat jual krupuk Palembang di Bekasi, dan lain-lainnya (hehehe).Selamat bekerja pak Sukadi!

http://wirausahakita.blogspot.com

Video Shooting-Editing-Transfer VCD

Di sekitar/lingkungan kita secara rutin berlangsung berbagai macam acara atau seremonial, semisal acara pernikahan, sunatan, pengajian, kelulusan, sholat 'Id berjamaah, kerja bakti, dll. Bai sebagian orang, mereka ingin memiliki kenangan yang bisa dijadikan media sebagai pengingat momen-momen tersebut, seperti cindera mata, foto, dan film dokumenter/video. Di sinilah peluang kita menggali potensi bisnis dari apa yang penulis maksud di atas. Yakni usaha jasa video shooting, edit video, transfer video ke VCD atau DVD. Sebagai informasi saja, jasa seperti itu di kota Jogja, tarif jasa video shooting berkisar antara Rp 150 - 250 ribu. Sedangkan Transfer ke VCD Rp 25-50 ribu. Kalau transfer ke DVD lebih mahal lagi. Lumayan kan. Coba kalau dalam seminggu dapat 2 job order saja (hmmmmmm .... ) :)Nah sekarang tinggal mikir bagaimana memulainya. Sebagai langkah awal, coba dulu kamu lakukan survey apakah usaha seperti itu sudah ada di kampung/desamu, di kecamatan, di kota? Seberapa banyak kompetitor, layakkah kita mulai dirikan?Berikutnya, jika memang semangat pantang mundur (tak peduli dengan berapapun kompetitor) ya sudah dimulai saja. Pertama, beli buku-buku tentang Video Editing, Audio Editing, konversi video/audio dari format analog ke digital, dan emacamnya. Terus coba ambil kursus 1-3 bulan mendalami teknik shooting, teknik editing video dan seputar dunia itu. Tak lupa di rumah juga siapkan perangkat untuk mulai belajar praktik, seperangkat komputer yang bisa memfasilitasi kerja kita. Kalau modal tidak begitu besar, coba beli komputer kondisi second, sekitar 3.5 - 4.5 juta (sudah lengkap dengan fasilitas video edit/transfer seperti yang penulis maksud). Misal begini nih : CPU Pentium 3-866/RAM 128 MB x 3 keping / Hard Disk 40 GB / VGA 128 MB / CDRW / FDD / Sound Card / Monitor 15" / Printer / Aksesoris / CD Blank 100 keping (1 box); ditambah + Firewire + Snazzi (optional, komponen yg ini harga agak mahal: 600 rb - 1.5 juta). Terus, perlu juga punya Camcorder (untuk shooting nya), camera digital atau analog. Harga yang digital, dari yg murah meriah 1.5 juta-an juga ada. Kalau bisa pinjam dari teman, saudara, kerabat, lebih syukur lagi (hehehe, sambil nabung uang, nantinya biar bisa beli sendiri).Coba praktek dari shooting sederhana, acara keluarga, acara kelas/sekolah, dst. Edit, transfer ke VCD kasihkan ke teman-teman/keluarga. Minta ongkos ganti CD nya aja :) Minta tanggapan/kritik dari mereka, biar bisa sebagai bahan peningkatan kualitas skill (ketrampilan) kita, biar makin profesional. Bagaimana, berminat? Langsung saja mulai! PLANET KITA VIDEO SHOOTING :D

http://wirausahakita.blogspot.com

Menjadi penerjemah, wira usaha -bisa- modal "dengkul"

Selama ini bila orang berpikir tentang wiraswasta atau wirausaha, termasuk point penting yang perlu diperhatikan adalah soal "modal" atau biaya yang diperlukan untuk memulai usaha tersebut. Sebenarnya apakah ada model usaha yang bermodal minim sekali, hampir-hampir hanya bermodal (kata orang) "dengkul". Menurut saya, bila kita memiliki satu atau lebih jenis kemampuan/ketrampilan, sebenarnya banyak yang bisa dikerjakan. Misalnya adalah menjadi penerjemah/translator. Ketrampilan yang diperlukan adalah kemampuan bahasa asing (Inggris, Prancis, Mandarin, Korea, Jepang, Portugis, Jerman, dll). Jenis pekerjaan inipun bisa dimulai dengan sistem paruh waktu, misal bahkan sejak usia SMU (byar SMU tapi sudah jago bahasa asing - misalnya).Nah, langkah berikutnya tinggal membuat promosi, menjual jasa kita. Contoh sederhana: membuat iklan poster, ditempel di tempat rental komputer, rental internet, iklan via chatting internet, iklan dari mulut ke mulut :) menawarkan ke mahasiswa-mahasiswa yang sedang menempuh kuliah jenjang S-2, titipkan kartu nama ke banyak orang, dan sebagainya. Yang perlu juga mendapat perhatian, soal kualitas terjemahan dan harga jasa yang menarik. Semakin baik kualitas terjemahan dan harga jasa juga "berani agak miring" kayaknya bakal mudah mendapat pelanggan.Kalau sudah semakin OK kualitas, berikutnya bisa dipikirkan mengembangkan "market", semisal mencoba menawarkan ke penerbit-penerbit, percetakan, kantor, dll. Selamat mencoba "resep" sederhana ini. Good luck, sayonara, adios !

http://wirausahakita.blogspot.com

Paket Snack Pengganti Sarapan

Pernah mengamati berapa banyak pegawai kantoran yang harus berangkat kerja pagi-pagi? atau para guru tingkat sekolah dasar hingga menengah? atau para karyawan pabrik, industri, staff, prajurit, polisi, dan sebagainya? Berapa banyak diantara mereka yang menyempatkan diri menyantap sarapan pagi?Padahal saat di pagi hari mereka butuh bekal energi untuk menunaikan tugas sehari-hari. Nah, peluang usaha kali ini berkaitan dengan makanan. Coba lakukan simple survey tentang : tempat/lokasi/daerah yang sering atau paling banyak dilalui orang-orang seperti yang disebut di atas. Usaha yang hendak kita trial kali ini adalah : membuat paket-paket snack dengan beberapa macam paket, yang disesuaikan dengan tipe calon pembeli. Per paket snack bisa diisi 3-4 macam kue basah/roti kering/jajan pasar; terdiri variasi rasa: manis-gurih/ manis-asin/ manis-manis; ditambah segelas minuman mineral (sebagai alternatif saja, karena bisa jadi di tempat kerja masing-masing telah disediakan minuman gratis juga). Paket dibungkus secara ringkas dan rapi agar mudah dimasukkan tas atau dibawa ke tempat kerja (pilihan bagus: dikemas dalam dus ukuran kecil). Buat paket snack dengan harga beragam, mulai termurah (misal Rp 2000, Rp 4000, Rp 6000; dsb). Buatlah image agar atmosfir usaha nampak clean-bersih-higienis-halal-sehat-praktis, baik untuk produk, media ataupun lokasi usaha. Jangan lupa sertakan pula no kontak kita (telp/HP/email) pada kemasan untuk memancing feedback dari pelanggan; tentang kesan mereka atas produk, komplain, dan sejenisnya. Buat kata-kata provokatif di tempat usaha, yang memancing pembeli mencoba produk "usaha" kita. Misal: "Belum sempat sarapan?, mampir dulu dong". "Paket hemat, pengganti yang tak sempat sarapan" (hehehe). Tips : masakan bisa dibuat sendiri, membeli di tempat lain. Bisa juga mencoba mengambil berbagai resep kue/jajanan yang ada di arsip di internet, buanyak sekali tuh!So, berani coba ?

http://wirausahakita.blogspot.com

Jasa Kurir Dalam Kota

Kalau ide ini -sekira dianggap- agak "not to close" to the reality, sorry. Tapi namanya juga gagasan di kepala, ndak ada salahnya kan kalau tetap dituangkan :)Misal kita jumpai kasus seperti ini: seseorang habis bepergian, membawa oleh-oleh dan ingin mengirim sebagian ke saudara/kerabat sekota, sementara kendaraan agak sulit, jadwal ngantor tetap harus dipatuhi. apa solusinya? kasus lain: seorang pelaku bisnis makanan kecil terbiasa menyuplai ke warung-warung/kios dekat maupun jauh. suatu ketika terkendala dengan masalah transportasi pengiriman. apa solusinya? seseorang ingin mengantar suatu barang, atau makanan, atau apalah, kepada orang lain yang masih sekota, tapi kalau diantar sendiri jalan kaki 2 jam (hahaha), kendaraan sendiri ndak punya, kendaraan tetangga sedang dipakai, yang ada cuman telepon dan HP. pakai taksi mahal, pangkalan ojek terlalu jauh, apa solusinya? seorang mahasiswa ingin meminjam modul/catatan/laporan/tugas rekan lain yang lokasinya lumayan berjauhan meski masih sekota, sementara dia sendiri dan si empunya modul/dll masih disibukkan urusan tugas kuliah lain, apa solusinya? How bout this idea: JASA KURIR DALAM KOTA :) Kayaknya bagusnya usaha ini dilakukan secara network, beberapa rekan pemilik kendaraan motor untuk operasional, bergabung bersama (misal: 5 buah motor, 1 mobil pick up). Ada beberapa nomor kontak dengan customer yang disiapkan (telp, hp, email). Bila usaha makin besar, bisa menambah armada transportasi. Masalah pembagian keuntungan, dibicarakan di awal ketika membentuk kerjasama usaha, proporsional. Lakukan promosi secara efektif dan aktif. Cuma harus hati-hati juga, selektif dalam operasionalisasinya, agar tidak dimanfaatkan untuk kejahatan orang lain, misal mengantar minuman keras, taruhan judi, narkoba, dll. Bagaimana? This idea is coming from kid's comic, the Transporter movies and private life experience. :)

http://wirausahakita.blogspot.com

Menjual Komputer Rakitan

Usaha yang hendak penulis uraikan sebenarnya sederhana: merakit komputer, menawarkan lewat media iklan/promosi, akhirnya terjadi transaksi pembelian. Usaha jenis ini, kalau untuk kota-kota besar di Pulau Jawa, mungkin memiliki tingkat kompetisi/persaingan cukup tinggi, karena banyaknya pelaku usaha (individu maupun corporate) yang bermain. Tetapi kalau untuk luar pulau Jawa -barangkali- masih cukup berpotensi untuk diupayakan. Namun secara prinsip, tidak ada pembatasan mengenai lokasi/demografi usaha bila ingin memulai bisnis ini.Hal pokok yang harus dimiliki adalah ketrampilan/skill merakit sebuah unit komputer. Berikutnya capital/modal untuk belanja komponen-komponen sebuah komputer, dan biaya promosi. Nilai tambah : akan menguntungkan bila kita memiliki relasi (kenal dekat) dengan vendor/toko-toko supplier komponen komputer, yang pada ujungnya bisa memperoleh barang/komponen dengan harga "miring". :)Langkah untuk memulai usaha: miliki terlebih dulu ketrampilan/ilmu merakit komputer yang mencukupi, (bisa dengan cara ikut kursus singkat, atau belajar otodidak dari buku), selanjutnya siapkan modal untuk belanja komponen untuk 1-2 buah unit komputer baru (cari dengan terlebih dulu melakukan survey ke beberapa toko/vendor hingga diketahui toko mana yang berani menawarkan harga paling rendah untuk jenis barang yang sama. Misal untuk HardDisk, cari informasi mana toko yang berani memberi harga paling rendah, demikian pula untuk komponen lain seperti RAM, motherboard, CD-ROM, VGA card, mouse, keyboard, monitor, dll).Bila telah telesai proses belanja komponen, mulailah merakitnya dengan hati-hati hingga menjadi sebuah komputer yang bisa difungsikan. Coba burning test/nyalakan komputer hingga bekerja dengan normal, selama 5-8 jam tanpa jeda. Bila semuanya telah siap, berikutnya siapkan anggaran untuk biaya promosi dengan memasang iklan via koran/radio lokal (menurut penulis, media iklan ini cukup efektif). Buatlah penawaran harga yang dapat "menarik" minat calon pembeli. Karena bisa saja calon pembeli ini berasal dari kalangan individu, perusahaan/instansi yang sedang butuh komputer atau bahkan toko-toko komputer yang biasa berjual-beli komputer. Who knows ? :)Kiranya cukup itu dulu,

http://wirausahakita.blogspot.com

Membisniskan barang bekas

Barang bekas, barang second, re-furbish ternyata tidak selamanya berkonotasi "useless". Pengalaman yang pernah penulis jumpai di kota Bandung, ada usaha yang tergolong sukses dalam membisniskan barang bekas. Bahkan tokonya terkenal luas hampir seantero Bandung, karena diberi dengan nama unik "BABE" (BArang BEkas). Idenya sebenarnya sederhana, BABE menyediakan tempat berjualan dan sekaligus memanage penjualan. Adapun supply barang-barang dagangannya sendiri datang dari publik/masyarakat luas. dari mulai sepatu-sandal bekas, arloji, perkakas elektronik, pakaian, alat-alat olah raga, perkakas rumah tangga, alat musik, perlengkapan kantor, sepeda, bahkan hingga mobil bekas pun pernah ada dalam daftar jualan mereka. Promosi usaha nya tergolong aktif (bahkan menurut penulis, inilah kekuatan utama BABE), unik dalam inovasi dan kreatif dengan menggunakan beberapa medium (iklan di radio, media cetak, promosi on-the road, acara offair, dll).Mekanisme ringkas management nya: setiap item barang dari pelanggan yang hendak dititipkan, dikenai fee titipan (misal Rp 2500) untuk masa waktu tertentu penitipan. Hasil penjualan dari setiap barang yang terjual, BABE pun masih mendapatka komisi sekian persen.*Bayangkan bila (seandainya) dalam sehari saja BABE menerima titipan spt ini: 50 buah jaket, 100 pasang sepatu, 50 pasang sandal, 20 arloji, 20 jam meja, 30 buah topi, 40 potong kemeja, 25 buah alat dapur, 20 buah alat elektronik, 15 buah alat musik, 25 buah alat olah raga, 50 buah handphone, 35 buah aksesori fashion anak muda, 3 buah komputer, 10 kursi kantor, 30 tas kuliah/kantor. [hmmmm ... menarik bukan bila diakumulasikan dalam sebulan nya]Ide ini menurut penulis bisa saja diadopsi untuk kota manapun (sekedar info: di Bandung saja, usaha sejenis yang mengikuti jejak BABE banyak bermunculan), dengan penyesuaian kapasitas dan besarnya skala usaha dengan kemampua kita. Bisa saja kita mulai dengan ide "Garage Sale", menjual barang-barang second di garasi. Sambil mencoba menerapkan "resep BABE", toko menerima juga titipan barang jualan dari masyarakat/pengunjung. Lakukan promosi dengan inovatif dan aktif, atur layout tempat usaha semenarik mungkin, go to business !Selamat mencoba memulai BABE (BArang BEkas), RANGKAS (barang bekas), BASE (barang second), "serba 2nd", "Toko Second" sendiri, dsb :)

http://wirausahakita.blogspot.com

Buka toko virtual di Web

Pernah dengar kisah anak SMU yang sukses berjualan CD software di internet? Hingga sekarang, --sejauh yang penulis ketahui-- usaha yang ia rintis tersebut tetap eksis. Ide ini sudah lama juga ada di dalam benak pikiran penulis, cuma terkendala banyak faktor, yang hingga kini akhirnya belum terealisir juga. Idenya begini : kita punya kemampuan/skill membuat web, atau punya teman/kenalan yang memiliki skill tersebut. Di sisi lain, di sekitar kita bertebaran banyak usaha jualan yang belum "tersentuh" oleh dukungan internet dalam melakukan pemasaran, kecuali mengandalkan daya serap lokal atau pelanggan setia selama ini. Misal : pembuat makanan khas suatu daerah (abon, bika, lunpia, keripik, gudeg, jenang, dodol, gethuk, dsb), atau pembuat merchandise, atau cendera mata, atau pelukis naturalis (pemandangan alam, abstrak, dsb), pakaian tradisonal (batik, tenun, dsb). Nah, peluang yang bisa kita gali dari sini adalah mempertemukan produk-produk "home industry" tadi dengan calon-calon buyer/atau distributor dari lokasi yang sangat jauh, dengan memanfaatkan internet sebagai tulang punggung promosi. Posisi kita dalam hal ini sebagai perantara, dengan cara membangun sebuah website untuk toko maya (virtual store) yang menjual produk-produk tersebut. Adapun masalah keuntungan bisa diatur sedemikian rupa agar menyenangkan kedua belah pihak. Misal contoh sederhana : harga sebuah lukisan dari penjual dibandrol Rp 200,000. Di internet kita bisa pasang harga Rp 350,000 (sudah termasuk biaya pengemasan dan pengiriman). Dari selisih itulah kita berharap bisa mendapatkan untung.Tips : pelajari contoh mekanisme sistem jual-beli bila melibatkan pembeli yang berlokasi sangat jauh. Perhitungkan secara matang semua komponen biaya untuk delivery produk ke buyer di tempat jauh, agar jangan sampai malah merugi, karena salah kalkulasi. Coba mulai mendekati calon buyer/distributor dari kalangan terdekat (family, kerabat, teman alumni, dsb). Bangun image "kepercayaan" dengan hati-hati, karena bisnis semacam ini menyaratkan kepercayaan sangat baik, baik dengan rekanan produsen maupun para pembeli, di tengah maraknya isu "penipuan" via internet yang sering kita dengar.Ini saja dulu, sekedar mencoba mengakses ide lama yang terpendam dalam benak :)

http://wirausahakita.blogspot.com

Perdagangan antar pulau

Hmmm .. ndak perlu mengerutkan dahi dulu kalau membaca judul di atas. Wirausaha jenis ini bisa jadi berskala besar bisa juga cukup medium. Kalau modal dimiliki tidak sebegitu besar, ya kita mulai dengan level usaha kelas kecil-menengah.Berdasarkan pengalaman penulis, hasil bincang-bincang/diskusi dengan komunitas, rekan atau kenalan chating, di beberapa kawasan wilayah tertentu di Indonesia memiliki potensi market bagus untuk menggeluti usaha perdagangan. Misal berdagang pakaian/tekstil ke Papua atau Ambon, dengan mengambil supply barang dari Bandung/Jakarta/Jogja. Atau kerajinan tangan dari Bali, dengan mencoba mengambil market ke Jakarta atau Bandung. Komputer Jakarta/Surabaya, dibawa ke market Sulawesi/Kalimantan. Demikian seterusnya. Sebuah stelan blazer di Mangga Dua - Jakarta bisa dapat Rp 150 - Rp 250 ribu, di Papua (dengar-dengar) bisa dijual seharga Rp 300 - Rp 400 ribu. Lumayan kan untungnya?OK sekarang bagaimana mau memulainya. Cobalah cari rekan/kenalan/kerabat yang bisa dipercaya yang berdomisili di daerah lain (pulau/kota lain). Cari informasi mengenai harga-harga/potensi pasar tentang suatu komditas, atau komoditas yang langka supply tetapi punya prospek bagus, dsb. Bandingkan dengan kondisi lokal di daerah sendiri. Adakah "sesuatu" yang bisa kita ambil atau kita kirim ke rekan jauh tadi. Misal : prospek "baju daster Jogja" kalau ke Sulawesi gimana? atau "batik Pekalongan" di Banjarmasin, menarik ndak harganya ? dan lain-lain.Soal komunikasi? Gunakan sarana SMS, email, chating, dll. Mencari rekan/partner usaha? Coba dari kerabat, mantan teman sekampus, teman chating yang credible, dst. Mau mulai bisnis sekarang juga? Ya ... coba saja ! :)

http://wirausahakita.blogspot.com

Membuat Situs Portal Informasi

Internet telah menjadi media paling massive, mampu menghubungkan jutaan orang di berbagai belahan dunia, menyediakan miliaran informasi dan pengetahuan, menjadi sarana bisnis yang sangat efektif. Salah satu yang bisa kita amati adalah keberadaan situs portal/direktori yang menyediakan berbagai informasi. Sekarang bagaimana kita mencoba mengambil "sedikit" peluang darinya? Coba kita perhatikan dalam sebuah kota (manapun, terutama kota besar) akan kita jumpai banyak sekali unit bisnis/usaha. Misal bengkel motor, penjual kue/penganan, counter butik-fashion, jasa design/bangun rumah, dll. Nah kita bisa manfaatkan itu dengan membuat sebuah website portal atau direktori yang menyajikan informasi dengan topik khusus. Misal seperti ini: http://www.info-rumah.com/ yang menyajikan informasi perumahan.Kita bisa coba terapkan untuk informasi tentang apa yang sudah saya sebutkan sebelumnya, misal infobengkelmotor.com Coba mulai dengan sebuah kota, dengan menyajikan informasi yang lengkap jenis/tarif/lokasi/no kontak bengkel-bengkel yang ada di kota tsb. Berikutnya, keuntungan akan kita coba raih dengan menarik fee atau biaya pemasangan iklan (baik iklan gambar maupun teks) dari tempat usaha yang kita tawarkan untuk dimuat di website. Ini memang mirip seperti YellowPages di web, tapi dengan kelebihan menyajikan data lebih lengkap daripada sekedar alamat dan nomor telepon. Hal ini bisa diterapkan untuk jenis berbagai usaha yang dilihat cukup banyak bertebaran di sebuah kota (coba dengan melakukan survey sambil jalan2 keliling kota). Lihat potensi apa yang bisa kita gali.Selamat mencoba.TIPS:- Website buatlah agar cukup menarik pengunjung- Promosikan website via iklan-iklan gratis di internet, agar makin dikenal banyak orang.- Buat penawaran harga iklan yang dapat menarik minat pemasang

http://wirausahakita.blogspot.com

Pusat Info Kost dan Kontrakan

Beberapa waktu lalu penulis tanpa sengaja menjumpai jenis usaha ini sewaktu jalan-jalan di kota Jogja. Idenya unik, (sepertinya) tidak membutuhkan modal besar, asal lokasi usaha cukup bagus, dekat dengan kampus yang memiliki jumlah mahasiswa cukup banyak (biasanya didominasi oleh kampus-kampus berstatus negeri jaman dulu). Modal usaha "Info Kost dan Kontrakan" adalah tempat usaha (bisa menyewa tempat fotocopy) karena hanya butuh ruang kecil (sekitar 1x2 meter), buku catatan besar sebagai penyimpan data-data kost dan kontrakan, peta-peta, dan perlengkapan administrasi.Operasionalnya cukup mudah: peminat info kost & kontrakan (biasanya dari kalangan mahasiswa baru, pasangan keluarga muda, atau yang sedang membutuhkan tempat tinggal)mendatangi ke tempat usaha, mereka dipersilahkan mencatat 10-15 data (valid) yang tersedia, kemudian dikenakan biaya administrasi Rp 15.000 (untuk info kost) dan Rp 20.000 (untuk info kontrakan). Bila data-data diantarkan ke lokasi peminat, dikenaan biaya tambahan sebesar Rp 25.000. Di sini pemilik usaha memberikan jaminan/garansi atas keabsahan (validnya) data kost/kontrakan yang diberikan, bila tidak, maka biaya administrasi yang telah diambil dari client dapat dikembalikan.Lalu bagaimana cara mengoleksi data rumah kost dan kontrakan, sekaligus menjaring konsumen yang membutuhkan? Kekuatan utama ada pada media promosi (lewat koran lokal, radio, brosur cetak, poster, dsb yang mudah diakses oleh publik), dan lokasi usaha yang strategis. Biasanya pemilik kost/kontrakan akan senang bila mereka dapat menitipkan data rumah mereka yang sedang mencari calon penghuni, secara gratis.Pemilik usaha sebaiknya senantiasa mengupdate/memperbaharui info data kost/kontrakan secara periodik, mengecek keabsahan data, data yang sudah laku/terjual, rumah yang sedang penuh/masih tersedia bagi penghuni baru, dsb, agar tetap dapat memuaskan pembeli informasi tersebut. Bagaimana .... cukup menarik kah? :)

http://wirausahakita.blogspot.com

Ternak ikan Lele yuk! :)

Usaha yang penulis ceritakan berikut boleh kalau mau dijadikan sambilan nambah penghasilan; atau mau dijadikan sebagai sekedar hobbies juga boleh. Kali ini tidak ada hubungan dengan teknologi canggih sedikitpun. Modal yang dibutuhkan juga kecil koq, 300-500 ribu an perak. Tapi syaratnya punya tanah/lahan yang kosong agak cukup luas, yaaa minimal 3 x 6 meter. Ini berdasarkan pengalaman pribadi (tinggal nunggu panen, nih) Ayo, coba ukur tanah samping/belakang rumahmu. :)Usaha yang akan kita coba geluti adalah beternak ikan lele. Ikan ini cukup banyak penggemarnya di masyarakat (coba saja lihat warung-warung pecel lele Surabaya tuh, ramai terus kan). Nah modal awal, kita coba buat 1 kolam ukuran kecil 2m x 3m, gali tanah sedalam 30an cm, tanah galian urug-kan ke sekitar pinggir calon kolam. Terus beli terpal plastik yang banyak dijual di toko, seharga 50 ribuan (yang lebih mahal juga ada), tapi ini kualitasnya sudah cukup bagus. Pasang terpal plastik ke lubang kolam yang telah digali, kedalaman tanah 30 cm, tinggi permukaan tanah (dengan tanah urug sebelumnya) naik kan jadi 20-30 cm lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Jadilah kolam kita yang berbiaya murah. Isilah dengan air jernih, biarkan selama 2-3 malam (jangan langsung ditaburi benih). Beri tanam-tanaman air juga bagus, semisal teratai, ganggang air, kangkung, dsb.Berikutnya, tinggal beli benih ikan lele, dengan ukuran sebesar ibu jari orang dewasa, harganya sekitar 100-150 rupiah per ekor. Coba isi kolam tadi dengan 300-400 ekor benih ikan lele. Beli pakan ikan (pelet) lembut, sekitar 5000 rupiah per kg. Sebulan mungkin menghabiskan sekitar 3 kg. Sebagian di atas kolam dibuat atap pelindung, juga bagus. Sebagian terkena cahaya langsung matahari. Kalau ada sisa nasi makan malam/siang, masukkan saja ke kolam, biar nambah-nambah zat makanan. Air kondisikan alami seperti di rawa/sungai, perbanyak tanaman air. Kalau di awal-awal menabur benih, sebagian ikan mati, jangan panik, ambil saja, buang. 3-4 hari berikutnya ikan akan bertahan hidup normal koq. Nah, tinggal menunggu sekitar 3 bulan, ikan sudah cukp besar untuk bisa dipanen, dijual dengan harga sekitar 1000 rupiah per ekor. Bikin saja tulisan di depan rumah "JUAL IKAN LELE KONSUMSI, SEGAR, GURIH" (hehehe). .... Bagaimana, asyiik kan?Kalau tanah cukup luas, berarti bisa bikin 2-3 kolam lagi yang serupa.

http://wirausahakita.blogspot.com/2006/04/ternak-ikan-lele-yuk.html

Keripik Aneka Buah Untungnya 10%

Karena terbilang baru, penerimaan pasar domestik terhadap keripik buah masih minim. Pasalnya selain harga jualnya masih relatif mahal, juga masyarakat masih jarang mengetahui adanya keripik buah. Namun sebagai produsen keripik buah, Ikhsan Setianto, Direktur CV. Nur Setia Abadi (NSA) mengungkapkan, snack buah-buahan ini memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Tentu saja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa tembus pasar internasional. Bagaimana peluang bisnis keripik buah ini?Sejak tahun 2004 Ikhsan Setianto merintis usahanya mengembangkan keripik buah. Saat itu ia tengah mengalami PHK dari sebuah perusahaan di bidang consumer goods. Dari hasil pesangon sebesar Rp 30 juta, ia mulai merintis bisnis keripik buah setelah sebelumnya sempat melihat banyak buah salak yang terbuang percuma di kebun milik keluarga istrinya.Ikhsan Setianto mengakui sudah banyak buyer dari luar negeri, antara lain Hongkong, Taiwan, Bangladesh dan India yang ingin membeli keripik aneka buah produknya. Diantaranya keripik salak, nangka, nanas & apel. Barangkali ini merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Dari segi bahan baku, jelas buah-buahan sangat melimpah di Indonesia. Bahkan di saat musim panen, harga buah langsung anjlok, karena tidak mampu diserap oleh pasar. Namun seperti kebanyakan UKM, ternyata produk keripik buah milik Ikhsan belum mampu memenuhi kualifikasi permintaan buyer luar negeri. Akhirnya, Ikhsan pun belum mampu menggarap pasar ekspor.“Pemasaran di internet sebenarnya bagus, dan banyak sekali permintaan ekspor keluar negeri. Tapi persyaratan mereka itu agak sulit terutama dari legalitas, dokumentasi kesehatan dari Depkes, dan sertifikat untuk produk. Kita sudah ada ijin dari Depkes, tapi buyer minta untuk sertifikasi resmi misalnya produk itu benar-benar higienis,” ungkap Ikhsan.Kendala lainnya, terletak pada pengemasan. Buyer international meminta pengemasan harus sudah rapi, dengan bahan dari alumunium foil lengkap dengan brand dan desainnya, dan beratnya per satu kemasan 50 gram.Jika permintaan pasar ekspor bisa dipenuhi, menurut Ikhsan buyer pasti akan order dalam jumlah besar. Padahal untuk memenuhi permintaan ini, dibutuhkan modal cukup besar. Sebagai salah satu UKM, CV. NSA sulit untuk memenuhi permintaan ini, dikarenakan kendala klasik, yaitu keterbatasan modal. Asal tahu saja, buyer biasanya akan meminta order dalam jumlah besar. Dan untuk memenuhi 1 kontainer, bisa membutuhkan modal Rp 200 – 300 juta. Tentu saja bagi UKM, menanggung modal sebesar itu cukup berat. “Akhirnya ya sudah saya jalin komunikasi saja sementara. Meski sebenarnya potensinya bagus untuk pasar ke luar negeri,” papar Ikhsan.Kendala Produk dan Pasar LokalUntuk pasokan bahan baku, Ikhsan mengaku tidak mengalami kesulitan. Untuk pasokan buah salak ia dapatkan dari kebun salak milik keluarga istri di Yogyakarta, serta mengambil dari pengepul salak pondoh di Yogyakarta. Sementara untuk pasokan buah nangka, nanas dan apel ia dapatkan dari pengepul buah di Malang. Untuk produksi, Ikhsan dibantu 5 orang karyawan guna memproduksi keripik salak di Yogyakarta dan 5 orang memproduksi keripik nangka, nanas dan apel di Malang. Untuk pengelolaannya, Ikhsan melibatkan saudara, teman dan tetangga sekitar lokasi produksi. Dalam 1 bulan, rata-rata kapasitas produksi keripik buahnya 30 – 40 kg.Sementara untuk pemasaran di Jakarta ia dibantu oleh sekitar 4 orang karyawan. Jadi total pagawai 14 orang. Distribusinya juga belum jauh, karena pemasaran di Jakarta baru berjalan 1 tahun ini.Meski tidak kesulitan dalam hal pasokan bahan baku, Ikhsan menjelaskan kendalanya lebih kepada biaya produksi keripik buahnya. Pertama, karena biaya produksinya mahal mengakibatkan harga jualnya menjadi mahal. Harga penjualan keripik buah masih berkisar Rp 7.000 per 50 gram-nya. Ditambah sifat keripik yang cepet melempem (tidak renyah lagi) jika lama berinteraksi dengan udara, serta masyarakat lokal belum banyak yang mengenal keripik buah ini. Untuk membuat keripik buah ini tahan lama, maka harus dikemas dengan alumunium foil yang tahan sampai 1 tahun, namun jika hanya dikemas dalam plastik biasa, keripik hanya bisa tahan selama 6 bulan.“Bisa dikatakan produk ini belum bisa memasyarakat dengan baik. Sebenarnya ide kita ingin memberikan banyak sampling produk sehingga produk ini bisa berkembang dan semua masyarakat tahu. Kembali kendala ke internalnya. Pemberian sampling biasanya diberikan ke toko, dengan sistem konsinyasi. Bisa dibilang toko tanpa resiko, jadi ditaruh disitu, ditaruh sampelnya dan pengelola toKO dipersilahkan untuk mencoba sampelnya. Tapi itupun biasanya nggak lama, karena karakter produk ini tidak bertahan lama jika terkena udara. Samplingnya paling berkala, kalau ada permintaan baru diberikan,” ungkap Ikhsan.PemasaranHingga saat ini, Ikhsan mengatakan omzet dari usaha keripik aneka buah produksinya, masih berkisar Rp 4 juta per bulan atau kapasitas 30 kg keripik. Dengan keuntungan bersih menurut pengakuan Ikhsan hanya 10% dari omzet. Sebelum memasarkan ke toko-toko, Ikhsan memasarkan keripik buah melalui koperasi instansi BUMN seperti diantaranya, Koperasi Karyawan Kantor Pertamina Pusat - Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor Departemen Keuangan – Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor AUTO 2000 – Jakarta Utara, Koperasi Karyawan LTO Dirjen Pajak – Jakarta Pusat dan Koperasi Karyawan Kantor Catatan Sipil – Jakarta Barat.“Rencana ke depan, saya ingin masuk ke supermarket-supermarket besar. UKM kendalanya masih terbentur di masalah dana. Itu klasik. Untuk masuk ke supermarket besar kita harus bayar listing fee, istilahnya uang pendaftaran produk. Jadi setiap produk yang masuk per item biayanya mencapai Rp 2,5 juta,” pungkasnya.

Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips ManufacturerFruit Chip, Your Alternate Choice Of ChipWebsite : http://indonetwork.co.id/cv_nur_setia_abadi ; http://nur-setia-abadi.blogspot.com/

Potensi Bisnis Keripik Buah

Pasarnya Masih Terbuka Lebar
Tabloid Peluang UsahaNo.12 / Thn I / 06 – 19 Februari 2006 Sektor Agribisnis, Hal. 16 – 18By Malik, Ekawati, Mutiara Dwi R.Potensi Bisnis Keripik Buah Pasarnya Masih Terbuka Lebar
* Setelah Diubah Menjadi Keripik, Harganya Menjadi Fantastis


Indonesia memang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk buah-buahan. Lihatlah salak pondoh, salak bali, apel malang, dan masih banyak wilayah di pelosok Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam buah-buahan. Alangkah sayang, jika potensinya kemudian tidak tergarap. Apalagi pada waktu panen raya, petani kebingungan menjual hasil kebunnya karena harga jual buah anjlok, bahkan busuk di pohon karena tidak bisa terjual. Namun kini, selain bisa dijual dalam bentuk buah segar, dengan sedikit inovasi didukung oleh peralatan mesin yang cukup canggih, buah-buahan juga bisa diolah menjadi keripik yang cukup lezat dan nilai jualnya meningkat. Lalu seberapa besar peluang usaha ini?Sebagai snack alternatif yang cukup sehat dan bergizi, produk ini juga cukup diminati di pasar ekspor karena merupakan produk pangan yang tidak mengandung bahan-bahan kimia. Baik kualitas, rasa dan aromanya hampir rata-rata sama dengan buah segarnya. Peningkatan harga jual produk olahan buah segar menjadi keripik juga cukup fantastis. Misalnya salak pondoh yang harganya hanya Rp 3.000 per kg, bila telah diolah menjadi keripik harganya bisa meningkat menjadi Rp 80.000 per kg. Begitu juga hal yang sama terjadi pada beberapa jenis buah lainnya seperti nangka segar yang harganya Rp 1.500 per kg, bila telah menjadi keripik bisa mencapai Rp 50.000 per kg.Eksklusivitas produk berbahan dasar buah mengundang potensi untuk digali dan dikembangkan karena rata-rata keripik buah belum familiar bagi masyarakat sehingga bisa mengundang daya tarik orang untuk mencoba menikmati kelezatannya.Potensi dari pasar ekspor juga ditunjukkan oleh tingginya respon para buyer di luar negeri seperti diakui Ikhsan Setianto, produsen keripik buah dari CV. Nur Setia Abadi yang pernah mendapat tawaran order banyak buyer di luar negeri. Namun ia mengalami kendala dari sisi persyaratan produk, termasuk kendala klasik modal yang terbatas untuk memenuhi order dari buyer yang biasanya memang dalam jumlah besar.Menyikapi Kendala UsahaDalam pemasaran produk keripik buah, terutama dari sisi harganya yang terbilang cukup mahal bagi ukuran masyarakat kelas menengah ke bawah, menjadi semacam tantangan bagi produsen keripik buah untuk bisa lebih menekan biaya operasional terutama misalnya lewat penciptaan mesin penggorengan yang lebih murah namum kualitasnya tetap terjaga. Saat ini harga mesin penggorengan termurah di pasaran antara Rp 15 juta – Rp 30 juta-an.Selain itu, karena belum familiar, maka pemasarannya juga terkendala. Bahkan perusahaan besar yang sudah mengembangkan produk keripik buah berskala industri pun tak mampu berbuat banyak dalam mempromosikan produk ini ke masyarakat luas.Biaya produksi yang tinggi, dan alat produksi yang cukup mahal, pada akhirnya berpengaruh pula ke harga jual. Apalagi operasionalnya menggunakan bahan bakar gas dan listrik sehingga harga jual ke konsumen cukup tinggi. Bisa dipastikan kalangan market menengah ke bawah, belum tentu menjadi target market yang tepat bagi pemasaran keripik buah. Tetapi bisa jadi produk ini memang lebih tepat mengarah ke market menengah ke atas.Karena itulah menembus pasar ke beberapa supermarket bisa jadi merupakan impian bagi beberapa produsen keripik buah. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh pelaku usaha yang sudah mengelola usahanya berskala industri. Produk pelaku usaha berskala industri sudah merambah ke beberapa supermarket maupun airport. Dengan kapasitas produksi yang sudah besar, tentu saja bisa menutup biaya operasional dan profit yang diperoleh juga semakin meningkat.Namun bagi yang modalnya terbatas, biasanya untuk masuk ke supermarket masih terkendala oleh ketentuan besarnya listing fee. Karena itulah, pemasaran dengan memanfaatkan jaringan yang sudah ada di masyarakat seperti misalnya koperasi bisa dipertimbangkan, dan tentu saja sistemnya tetap masih harus bertumpu pada konsinyasi karena merupakan produk yang masih belum terlalu familiar.Menurut Ikhsan Setianto, proses masuk ke koperasi agak lebih mudah dan prosedurnya tidak terlalu rumit serta tanpa biaya. Seperti ke beberapa koperasi BUMN maupun swasta. Pemasaran sederhana dengan menitipkan sampling produk ke beberapa toko juga merupakan langkah yang cerdik untuk menyiasati kendala market.Peluang UntungBagi usaha kecil yang baru merintis pengembangan produk, kapasitas produksi yang masih rendah membuat pendapatan juga belum maksimal. Sehingga margin keuntungan juga tidak terlalu besar. Apalagi di awal usaha. Seperti yang dikembangkan oleh Ikhsan Setianto yang memproduksi keripik aneka buah diantaranya keripik salak, nangka, nanas dan apel. Kapasitas produksi yang masih rendah belum sesuai dengan kapasitas mesin, bahkan masih jauh dibawah angka kapasitas produksi mesin.Sebagai gambaran, kapasitas mesin satu hari bisa menghasilkan 30 kg. Namun Ikhsan optimis kapasitas produksinya akan semakin berkembang meskipun saat ini kapasitas produksi yang dihasilkan per bulan baru mencapai 30 – 40 kg. Memang sangat tidak sebanding dengan kapasitas alat. Tentu saja hal ini banyak faktornya termasuk soal kendala pemasaran yang masih terbatas. Karena itulah margin keuntungannya juga masih kecil. Namun CV. Nur Setia Abadi yang dikelola Ikhsan Setianto ini direncanakan punya konsep ke depan, misalnya pengembangan produk, promosi lewat iklan maupun masuk ke supermarket besar.Mendekatkan prngolahan produksi dengan sentra bahan baku juga merupakan strategi lain berbisnis keripik buah untuk menjaga efisiensi. Sehingga menekan biaya distribusi. Karena itulah banyak diantara produsen keripik buah menempatkan lokasi usahanya di beberapa sentra produksi buah seperti Malang, Yogyakarta atau Wonosobo.Produsen keripik yang hanya focus pada pengolahan satu macam jenis baik keripik salak maupun nangka, cukup berpeluang meraih untung. Produsen salak Steve Hikmat menyasar segmen market pengunjung lokasi pariwisata yang banyak terdapat di Yogyakarta. Disamping itu juga menerapkan harga jual yang berbeda pada sistem pembayaran secara konsinyasi atau tunai pada langganannya yang sudah tersebar di beberapa daerah seperti Batam, Bandung maupun Riau. Hingga ia mampu meraup untung 30% atau sebesar Rp 7,2 juta setiap bulannya. Begitu juga pada Soebagyo, salah satu produsen keripik nangka. Meski untungnya belum terlalu besar hanya Rp 2 juta sebulan, namun ia mengakui kedepannya prospek bisnis ini akan bagus.Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan keripik buah, sebagai produk konsumsi yang terbilang masih baru di Indonesia, didukung oleh kualitas bahan keripik yang serba alami, tampaknya potensi bisnis ini masih berpeluang besar untuk bisa digarap baik sebagai bisnis sambilan maupun bisnis utama.

23 April 2009

Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini

Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa. Ramalan beberapa ahli tentang gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya. Peran orangtua dan guru Wirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreativitas. Rasa tanggung jawab dan kreativitas dapat ditumbuhkan sedini mungkin sejak anak mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Selain itu, peran lingkungan, semisal guru-guru, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak. Mereka bisa berperan dalam membuat anak agar bisa menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu, guru harus kreatif mengajar dan membuat soal. “Berikan kesempatan untuk berpikir alternatif. Misalnya, jangan bertanya 5X5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25,” kata Zainun Mu’tadin, S.Psi, M.Psi, Dosen Psikologi UPI YAI. Dengan kreativitas orangtua dan guru, anak dilatih memiliki beberapa alternatif jawaban dan solusi. Alternatif tersebut akan melatih anak mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada. Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, menurut Zainun, hal-hal tersebut di sekolah kurang mendapat perhatian. Kebanyakan sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja. Sementara kreativitas masih kurang dikembangkan. Padahal pengembangan kreativitas akan membuat anak mampu menciptakan hal-hal baru. Kreativitas inilah modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Sisi positif lain dari pengembangan sikap ini adalah terbangunnya rasa tanggung jawab pada semua hal yang dilakukan. Menurut Zainun, bila banyak orang di Indonesia memiliki jiwa enterpreunership, maka jumlah koruptor juga akan sedikit. “Bila kelak anak tersebut dewasa dan mengambil kredit di bank, ia akan bertanggungjawab mengembalikan dan tidak akan kabur,” kata psikolog yang menamatkan studinya di UI ini. Latihan bertahap Menumbuhan sifat wirausaha pada diri anak memerlukan latihan bertahap. Latihan wirausaha ini bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, toilet training untuk melatih anak yang masih ngompol. Tujuan akhirnya sampai anak mampu membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya. Latihan itu dilakukan secara bertahap dan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab. Latihan lain, misalnya melatih anak untuk dapat membereskan mainan selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya. Hal ini juga merupakan latihan untuk bertanggungjawab dan awal pengajaran tentang kepemilikan. Ini mainan saya diletakkan di sini. Ini mainan kakak, kalau mau pinjam, harus ijin dulu. Sifat tersebut, menurut Zainun, adalah awal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak. Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif. Dalam mengajarkan anak mengelola uang, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua terhadap aturan. Misalnya, saat mengajak anak berbelanja. Catat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak belanja di luar catatan belanja. Bila anak mengamuk meminta mainan atau barang kebutuhan lain di luar catatan, maka orangtua harus konsisten untuk membelikannya. Aturan itu harus sudah disepakati sejak awal. Latihan seperti ini sudah dapat dilakukan sejak anak berusia dua tahun. “Jangan anggap anak tidak mengerti apa-apa dengan mengatakan ‘Ah, masih anak kecil’. Padahal sejak kecil pun anak sudah mampu berkomunikasi,” tutur ayah satu orang putra ini. Bisnis kecil-kecilan Setelah anak diajarkan mengelola uang, tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli. Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil-kecilan. Misalnya, anak bisa diajarkan menjual barang hasil karyanya, saperti es mambo, kue, dan lain-lain. “Ini tidak disarankan untuk dilatihkan, tapi sebenarnya bisa,” ujar Zainun. Syaratnya, tahapan ini bisa dijalankan bila orangtua sudah mengajarkan cara mengelola uang terlebih dahulu. Sehingga anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik. Dengan demikian uang yang mereka dapat tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu. Cara yang dipakai oleh David Owen, seorang penulis buku di Amerika Serikat, agaknya layak ditiru. Owen mengisahkan tentang bagaimana ia mampu mendorong anak-anaknya menjadi gemar menabung dan penuh perhitungan dalam membelanjakan uang. Ia membuat “Bank Ayah”, khusus untuk anak-anaknya. Prinsip yang dikembangkan dalam "Bank Ayah" adalah pemberian tanggungjawab dan kontrol keuangan secara penuh pada anak sebagai pengelola uang mereka sendiri. Uang anak adalah milik anak, bukan milik orang tua. Bahkan anak juga bebas mencari pendapatan di luar jatah uang saku yang telah mereka dapatkan. Dalam hal ini "Bank Ayah" berperan dalam melakukan kontrol secara tidak langsung, yaitu dengan mengembangkan prinsip-prinsip perbankan seperti bonus yang dapat menarik minat akan untuk menambah saldo tabungan, juga saldo minimal, yang dapat membatasi jumlah pengambilan uang agar tidak terkuras habis. Dengan ini anak akan benar-benar bertanggungjawab dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. "Bank Ayah" ala David Owen ini tidak cuma menjadi daya tarik anak untuk menabung. Lebih dari itu "Bank Ayah" dikelola sebagai sarana pembelajaran dari praktik ekonomi kepada anak dengan bahasa yang sederhana. Dengan sedikit improvisasi, Owen mengubah "Bank Ayah" ini menjadi media latihan berinvestasi pada anak-anaknya. Owen sendiri berhasil mendirikan sebuah perusahaan pialang saham yang bernama "Dad and Co”. Jadi sejak dini jiwa wirausaha baik untuk ditanamkan. Inti dari kewirausahaan adalah bagaimana menanamkan cara untuk berusaha, memecahkan permasalahan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan. Sangat positif, bukan?

(Sarah Handayani/Bahan :Ami

Baby’s World, Rental Perlengkapan Si Buah Hati

Pasangan suami istri yang baru memiliki momongan cenderung membeli semua perlengkapan bayi mereka. Nasib perlengkapan itu akan menjadi barang bekas ketika anak beranjak dewasa. Mengapa tidak menyewa saja? Fisamawati Rasanya ada berjuta barang yang harus disiapkan untuk menyambut kedatangan si buah hati. Segala pernak-pernik yang tersedia di toko khusus perlengkapan bayi menjadi wajib untuk dibeli. Ditambah, bentuk serta warna lucu memiliki daya antusias tersendiri bagi para ibu baru tersebut. Besarnya rasa kasih sayang untuk memberikan pelayanan terbaik terkadang tidak diimbangi dengan tingkat pemanfaatan perlengkapan bayi pada masa mendatang. Seiring bertambahnya usia anak maka barang-barang tersebut pun tak terpakai. Bahkan tak jarang hanya bertumpuk di gudang hingga berdebu dan usang. Fenomena di atas menginspirasikan Tedriya untuk memanfaatkan peluang. Perempuan yang akrab disapa Ia ini membuka jasa rental perlengkapan bayi, bisnis yang tergolong baru. “Usaha penyewaan perlengkapan bayi ini berjalan baru tiga bulan tetapi untuk publikasinya dilakukan awal tahun 2007 melalui berbagai iklan di surat kabar maupun selebaran brosur,” ujarnya. Ini bermula dari pengalaman pribadi ketika melahirkan putra pertamanya bernama Al Khrisna Naufalisdzaki. Ia membeli semua perlengkapan bayi seperti pakaian, tempat tidur, bantal dan guling, sampai baby walker, baby troller, dan kelambu dengan asumsi dapat disimpan dan digunakan kembali untuk anak selanjutnya atau dihibahkan ke orang lain. Namun kenyataanya justru jadi barang rongsokan di gudang. “Wah, pokoknya barang-barang tersebut numpuk di gudang. Memang bisa digunakan lagi lain waktu. Tapi, males juga membersihkan benda kotor dan penuh debu,” akunya. Ia menambahkan, seringnya mendengar beberapa ibu mengeluh dengan harga perlengkapan bayi yang tergolong mahal namun hanya dapat digunakan sekali saja menguatkan keinginannya untuk menekuni rental perlengkapan bayi dengan serius. Usaha yang diberi nama Baby’s World ini, menyediakan sewa berupa perlengkapan bayi antara lain tempat tidur bayi, baby walker, baby troller, kelambu dan lainnya. Usaha yang dimulai dengan modal Rp 10 juta. Dimulai pelanggan pertama pada 27 Januari 2007, Baby’s World yang terletak di Jl. Raya Pondok Duta, Depok ini sudah memiliki 34 pelanggan. Tak hanya sebatas wilayah Depok saja tapi sudah melanglang hingga Bintaro, Pondok Aren, Pluit, Ciledug bahkan Tangerang. “Terkadang saya sedikit kesulitan untuk jasa antar. Saya hanya bisa mengantar barang pada hari Sabtu dan Minggu,” kata perempuan berusia 27 tahun ini. Ia pun membuat ketentuan untuk penyewaan perlengkapan bayi di rentalnya. “Minimal lamanya penyewaan adalah satu bulan,” tandasnya. Kemudian ditambah persyaratan lain berupa kelengkapan fotocopy kartu keluarga, KTP dan rekening listrik atau telepon.“Maklum, sekarang banyak status kepemilikan rumah sifatnya sewa. Jadi, ini untuk mengantisipasi terjadinya penipuan data yang nantinya dapat berdampak kerugian bagi usaha ini,” terang Ia. Selain itu, Ia menetapkan setiap penyewa yang ingin meminjam perlengkapan bayi harus datang langsung ke rentalnya. Tak hanya itu, tingkat profesionalisme menjalankan usahanya dilampirkan surat perjanjian sewa-menyewa antara kedua belah pihak. “Sehingga jelas aturan-aturan yang menjadi hak dan kewajiban kedua belah fihak,” jelas lulusan Fakultas Ilmu Komputer Gunadarma ini. Sedangkan untuk patokan harga sewa selama masa promosi hingga November mendatang untuk tempat tidur bayi dimulai antara Rp. 1000,- hingga Rp. 2500,- lengkap dengan kasur, bantal, guling dan kelambu. Sewa baby walker Rp. 10.000,- per bulan, dan baby troller Rp. 15.000,- per bulan.Namun, harga akan kembali normal setelah masa promosi habis. Adapun perincian harga yang ditawarkan untuk sewa tempat tidur plus kasur, bantal, guling dan kelambu tetap sama. Berbeda dengan sewa baby walker mencapai Rp. 12.500,- per bulan dan baby troller seharga Rp. 20.000,- per bulan.Bagaimana solusi yang ditawarkan bila terjadi kerusakan barang yang dilakukan si penyewa? “Penyewa akan dikenakan tambahan biaya jika barang yang disewa terjadi kerusakan maupun noda permanen. Biasanya untuk noda permanen, saya meminta ganti rugi sebesar Rp.30.000,-. Lalu, dari biaya tersebut dialokasikan untuk pembersihan ke laundry,” jelasnya.Ia pun mengungkapkan teknik merawat perlengkapan bayi yang disewakan. “Saya membersihkannya setiap hari, meski pun sudah ditutupi dengan plastik transparan. Hal ini penting untuk memberikan pelayanan terbaik bagi penyewa,” ungkap Ia serius. Tak hanya itu, Ia pun sering menyarankan kepada penyewa agar peralatan-peralatan yang dipinjam terlebih dahulu dijemur di tempat panas. “Ini untuk mengurangi kelembaban barang sehingga mengecilkan kemungkinan timbulnya jamur dan bakteri,” imbuhnya. Ketentuan Rental Baby’s World
1. Tempat Tidur Bayi (selanjutnya disingkat TTB), Kasur Bayi, Kelambu, Baby Walker, Baby Trolley harus dikembalikan dalam keadaan baik.
2. Pelanggan wajib mengganti jika terjadi kerusakan dengan harga : TTB Besar 700 ribu, TTB Oval 550 ribu, TTB Kayu 600 ribu, TTB Rotan/Besi 350 ribu. Sedangkan untuk Kasur Bayi 200 ribu, Baby Walker 250 ribu, Baby Trolley 400 ribu dan Kelambu 150 ribu.
3. TTB, Kasur Bayi, Kelambu, Baby Walker, Baby Trolley tidak diizinkan untuk dioper kepada orang lain.
4. Keterlambatan dikembalikannya TTB, Kasur Bayi, Kelambu, Baby Walker, Baby Trolley akan dikenakan denda sebesar jumlah sewa hariannya.
5. Biaya kirim akan dikenakan kepada penyewa minimal Rp 25 ribu (tergantung daerah antar).

www.majalahpengusaha.com